PEMALANG, inidesa.id – Potret miris masih terlihat di Desa Tasikrejo, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang. Di tengah gencarnya pembangunan, sebagian warga di desa pesisir ini masih harus membuang air besar (BAB) di sungai dengan membuat jamban darurat yang disebut “Jomblong“.
Pantauan inidesa.id dilokasi, jomblong tersebut dibangun seadanya di atas aliran sungai. Terbuat dari bambu, seng bekas dan kain seadanya, tanpa septictank, kotoran langsung dibuang ke sungai.
Salah satu warga yang masih bertahan BAB di jomblong adalah Umi (34), warga RT 01 RW 05 Desa Tasikrejo. Dalam keterangannya, Umi mengaku sejak kecil hingga kini tidak memiliki WC di rumah.
“Sejak lahir sudah buang airnya di jomblong. Iya, sejak kecil,” ujar Umi, pada Sabtu (10/10/2026).
Umi mengaku pernah didata oleh pihak desa untuk mendapat bantuan jamban, namun hingga kini tidak ada realisasi.

“Pernah didata oleh perangkat desa, katanya yang tidak punya WC mau didata. Tapi setelah didata tidak ada realisasi, hanya didata-data saja,” ungkapnya.
Saat ditanya alasan kenapa tidak membuat WC sendiri, Mbak Umi menyebut dua kendala utama: tidak punya lahan dan faktor ekonomi.
“Alasannya tempatnya angel, mau bikin mikir septictank, tempat pembuangannya. Soalnya kan ini memang terlalu pelosok, tidak punya lahan. Ekonominya juga pas-pasan,” jelasnya.
Meski begitu, Umi berharap bisa memiliki WC yang layak seperti warga lainnya.
“Penginnya punya WC sendiri, biar tidak ke jomblong lagi,” harapnya.
Tak Hanya Jamban, Air Bersih Juga Sulit
Ironisnya, selain tidak punya jamban, Umi dan warga sekitar juga mengeluhkan sulitnya air bersih. Warga mengandalkan air PAM dengan biaya bulanan.
“Bayar air PAM per bulan 25-26 ribu, tapi airnya tidak lancar. Kadang 4 hari tidak keluar, keluarnya jam satu malam. Jadi pas air ada, ditampung dulu, nanti diirit-irit,” keluh Umi.
“Harapannya penginnya nambah PAM, airnya lancar, selain itu pengin punya WC,” tambahnya.
Tanggapan Camat Ulujami Waluyo
Menanggapi temuan ini, Camat Ulujami, Waluyo mengaku prihatin dan sudah memerintahkan langkah cepat.
“Desa saya minta data ulang. By name by address, berapa KK yang belum punya jamban sehat. Kedua, komunikasi ke warga, edukasi soal PHBS dan bahaya BABS. Ketiga, kita ikhtiar buatkan proposal bantuan jambanisasi ke Dinas Kesehatan, Perkim, Baznas dan CSR,” ujar Waluyo.
Warga berharap pemerintah tidak hanya mendata, tetapi benar-benar merealisasikan bantuan jamban sehat dan perbaikan layanan air bersih, agar warga pesisir Tasikrejo tidak lagi hidup seperti di pedalaman dan bisa hidup layak, sehat dan bermartabat di tahun 2026 ini.

